O o salah tempat. Sial!
Memang sih aku juga tidak terlalu tempat yang pas dan benar itu seperti apa, tapi aku tahu bukan disini. Dan itu pasti, aku yakin.
Seperti keyakinan orang-orang akan pinguin yang pasti mati dalam sesaat, jika tiba-tiba Tuhan menjatuhkan dia dari langit ke tengah-tengah gurun sahara.
Harusnya waktu itu, waktu si kaki yang maha manja mengeluh kalau dia sudah lelah berjalan dan mencari, aku pura-pura tidak dengar saja. Harusnya aku jalan terus dan mengangap ucapannya angin lalu. Terus melangkah, terus mencari. Bukannya malah berhenti dan nurutin keluh kesah si manja, terus ikut-ikutan terbawa malas dan memilih pasrah lalu menyerah dan terjebak selamanya di tempat ini.
Tempat indah yang terkutuk. Tempatnya berlangit oranye keeamsan, seperti warna langit saat matahari terbenam dengan sempurna. Tempat impian orang-orang yang mengejar kesuksesan. Dimana kesenangan menjadi prioritas kesekian. Semua ambisius, semua mengejar harta sampai mampus. Kerja rodi sudah pasti, rutin dikerjakan setiap hari dan ujung-ujungnya si kaki manja lagi-lagi berkeluh kesah, tiap hari makin menjadi-jadi. Sial, dasar kaki malas gak pernah puas.
Sekarang tiap hari aku harus pura-pura. Pura-pura suka, pura-pura nyaman, pura-pura tidak ada apa-apa, pura-pura pas, pura-pura senang kerja rodi, pura-pura ambisius seperti mereka. Padahal aku saja tidak tahu apa yang mereka kejar, selain harta tentunya.
Cih!
Dasar orang-orang miskin ambisius tidak berguna
Selain jadi tukang pura-pura, tinggal disini pun membuat ku jadi pendusta. Pendusta handal, nomor satu sejagad raya. Apalagi saat aku harus membalas surat kiriman dari Ibunda Raja, yang kerjaannya bulak-balik bertanya bagaimana kabar dan perkembangku di disini. Isi surat balasan tentu saja dusta semua, aku selalu bilang aku suka dan baik-baik saja. Pernah suatu ketika saat aku sangat lelah berdusta dan mengarang surat yang isinya bohong semua, aku sedikit menyelipkan kata-kata yang menyiratkan aku tertekan dan tidak suka disini. Oh tapi memang kejujuran terkadang membawa luka, surat Ibunda raja berikutnya isinya jadi caci maki semua. Mulai hari itu aku selalu membalas surat nya dengan dusta seperti biasa. Lagipula tidak ada salahnya membuat dia sedikit bahagia.
Coba yah, coba..
Kalau saja aku waktu itu pura-pura tidak dengar ke si kaki, mungkin aku sudah ada di tempat yang seharusnya aku berada. Mungkin di tempat indah itu, yang biasanya hanya aku kunjungi dikala liburan, atau kala ada waktu senggang. Tempat yang langit nya merah jambu, warna favoritku. Tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat ku sekarang, hanya beberapa langkah kaki, ah andai waktu itu aku berjalan sedikit lagi. Sial!
Dan sekarang aku menyesal.
Cih
Sungguh
Aku paling benci jika harus menyesal begini. Tiada berguna, toh nasi sudah menjadi bubur. Dan yang paling aku benci adalah, menyesal membuat ku jadi lebih benci sama diri sendiri. Menyesal seperti membuka luka lama yang telah kukubur dalam-dalam. Mencuatkan kembali rasa perih ke permukaan.
Memang sih aku juga tidak terlalu tempat yang pas dan benar itu seperti apa, tapi aku tahu bukan disini. Dan itu pasti, aku yakin.
Seperti keyakinan orang-orang akan pinguin yang pasti mati dalam sesaat, jika tiba-tiba Tuhan menjatuhkan dia dari langit ke tengah-tengah gurun sahara.
Harusnya waktu itu, waktu si kaki yang maha manja mengeluh kalau dia sudah lelah berjalan dan mencari, aku pura-pura tidak dengar saja. Harusnya aku jalan terus dan mengangap ucapannya angin lalu. Terus melangkah, terus mencari. Bukannya malah berhenti dan nurutin keluh kesah si manja, terus ikut-ikutan terbawa malas dan memilih pasrah lalu menyerah dan terjebak selamanya di tempat ini.
Tempat indah yang terkutuk. Tempatnya berlangit oranye keeamsan, seperti warna langit saat matahari terbenam dengan sempurna. Tempat impian orang-orang yang mengejar kesuksesan. Dimana kesenangan menjadi prioritas kesekian. Semua ambisius, semua mengejar harta sampai mampus. Kerja rodi sudah pasti, rutin dikerjakan setiap hari dan ujung-ujungnya si kaki manja lagi-lagi berkeluh kesah, tiap hari makin menjadi-jadi. Sial, dasar kaki malas gak pernah puas.
Sekarang tiap hari aku harus pura-pura. Pura-pura suka, pura-pura nyaman, pura-pura tidak ada apa-apa, pura-pura pas, pura-pura senang kerja rodi, pura-pura ambisius seperti mereka. Padahal aku saja tidak tahu apa yang mereka kejar, selain harta tentunya.
Cih!
Dasar orang-orang miskin ambisius tidak berguna
Selain jadi tukang pura-pura, tinggal disini pun membuat ku jadi pendusta. Pendusta handal, nomor satu sejagad raya. Apalagi saat aku harus membalas surat kiriman dari Ibunda Raja, yang kerjaannya bulak-balik bertanya bagaimana kabar dan perkembangku di disini. Isi surat balasan tentu saja dusta semua, aku selalu bilang aku suka dan baik-baik saja. Pernah suatu ketika saat aku sangat lelah berdusta dan mengarang surat yang isinya bohong semua, aku sedikit menyelipkan kata-kata yang menyiratkan aku tertekan dan tidak suka disini. Oh tapi memang kejujuran terkadang membawa luka, surat Ibunda raja berikutnya isinya jadi caci maki semua. Mulai hari itu aku selalu membalas surat nya dengan dusta seperti biasa. Lagipula tidak ada salahnya membuat dia sedikit bahagia.
Coba yah, coba..
Kalau saja aku waktu itu pura-pura tidak dengar ke si kaki, mungkin aku sudah ada di tempat yang seharusnya aku berada. Mungkin di tempat indah itu, yang biasanya hanya aku kunjungi dikala liburan, atau kala ada waktu senggang. Tempat yang langit nya merah jambu, warna favoritku. Tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat ku sekarang, hanya beberapa langkah kaki, ah andai waktu itu aku berjalan sedikit lagi. Sial!
Dan sekarang aku menyesal.
Cih
Sungguh
Aku paling benci jika harus menyesal begini. Tiada berguna, toh nasi sudah menjadi bubur. Dan yang paling aku benci adalah, menyesal membuat ku jadi lebih benci sama diri sendiri. Menyesal seperti membuka luka lama yang telah kukubur dalam-dalam. Mencuatkan kembali rasa perih ke permukaan.
Tapi mau bagaimana lagi? Rasa penyesalan itu tidak pernah mau pergi, menghantuiku dan si kaki pemalas sialan siang dan malam. Membisikan kepedihan, mengingatkan ku siapa yang paling salah disini, setiap saat setiap waktu. Ah sekali lagi, sungguh sial!
Haaaaah lihat saja kalau sudah masanya aku pergi dari sini dan hasilnya tidak seindah yang dijanjikan dan seterang si langit emas. Aku akan...............
(sungguh aku tidak tahu harus menyalahkan siapa, tapi tetap saja rasanya aku butuh seseorang untuk disalahkan. Bukankah aku akan terlalu frustatsi nantinya untuk dapat menyalahkan diriku sendiri lebih jauh lagi, jika sudah keluar dari tempat ini dan tetap tidak bahagia?)
sungguh aku hilang arah di tempat ini
ah sus...
BalasHapusmenyesal emang sgt manusiawi!
tp klo gw lg menyesali sesuatu, biasanya gw akan berfikir KALO AJA dulu ada yg gw ubah, gw dan keadaan gwn ga akan jadi yg skrg. akan beda juga tentunya.
jadi mungkin aja klo lu ga berenti dan ngikutin keluh kesak si manja "tempat yg tidak terlalu jauh dari tempat ku sekarang, hanya beberapa langkah kaki, ah andai waktu itu aku berjalan sedikit lagi. Sial!" itu malah akan lebih jauh dr lu dbanding saat ini, atau klo lu akhirnya berada di tempat itu pun mungkin lu ga akan sebahagia hari ini.
itu yg biasa gw pikirkan klo gw lagi menyesal. heheee...
ehm.. numpang lewat dulu de..
BalasHapus