Sabtu, 24 November 2012
Rabu, 02 Mei 2012
it's a wrap and so do us (hopefully)
Jumat, 20 April 2012
mad hatter tea party
Senin, 07 Maret 2011
caterpillar,angel,and apple
of the city of the blinding lights*
tip-toe-ing between trees
of the concrete jungle**
Where the angles are all lost
and need to be found
Where i like a small caterpillar
secretly eating the big apple
on my own
*taken from U2 song “The City of Blinding Lights”
**taken from Alicia Keys song “Streets of New York”
Kamis, 11 November 2010
menghapus hari
Atau tidak ada yang tega untuk bertanya? Bisa jadi.
Langitnya runtuh begitu saja. Amblas. Tanpa basa basi. Tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sulit baginya untuk percaya saat semua terjadi begitu cepat. Langitnya runtuh dalam satu kejapan mata. Langitnya bahkan runtuh saat ia sedang terbahak.
Di sudut hatinya ia masih yakin bahwa langitnya masih terbentang dan bulannya masih tergantung tinggi. Maka sekali lagi ia mendongak ke atas, mencari bintang dan bulannya. Mencari cahaya yang menjadi tujuan hidup nya. Namun kali ini yang ada hanya ruang hampa hitam. Gelap.
Langitnya runtuh dan itu nyata
Dilantai tempat ia berdiri tersebar serpihan bintang-bintang miliknya yang berserakan jatuh. Bintang-bintang yang ia gantung dengan susah payah satu persatu, dengan tangga setinggi angkasa. Ia menyapu serpihan-serpihan itu. sendirian. Yang menemaninya hanya suara isak tangis dalam hatinya.
Ya, tidak ada yang perduli
Tapi baginya lebih baik begitu
Karena setelah ia menyapu serpihan bintangnya dan menaruh mereka di botol, ia tinggal menghapus hari ini dari kalender, toh tidak ada yang tahu, tidak ada yang sadar.
Ia akan pura-pura tidur panjang seharian. Besok subuh subuh sekali ia akan bangun sebelum yang lain bangun, untuk melukis langit yang baru, menggantung bintang dan bulan yang baru.
Dan tidak akan ada yang tahu langitnya pernah runtuh.
Ia pun tidak akan pernah tahu, baginya langit runtuh hanya akan menjadi bagian dari tidur siangnya. Mimpi buruk yang mengusik saat ia asik terlelap. Mimpi buruk yang ia harap dapat lekas terhapus dari benaknya.
Dan hari dimana langitnya runtuh hanya akan menjadi sejarah yang mungkin ada atau mungkin tidak. menjadi hari yang terhapus begitu saja. menjadi hari tanpa arti.
Selasa, 03 Agustus 2010
Pada suatu malam
Malam ini aku harus menulis sesuatu, entah apa, namun ada rasa menggebu yang mengharuskannya. Andai saja aku mempunyai daya khayal yang tinggi, mungkin saat ini aku sedang sibuk membuat cerita dongeng seperti dirinya. Tentang rumah kue di padang savanna, atau kurcaci-kurcaci penambang emas di hutan para peri.
Aku ingin menulis mengenai hal-hal yang aku suka, seperti cerita fable mengenai burung-burung bersayap indah dan penguhuni hutan atau mengenai bintang-bintang laut yang anggun dan serdadu kuda laut yang gagah di negeri para duyung. Aku ingin menulis roman yang berakhir bahagia dengan putri-putri yang diselamatkan pangeran berkuda. aku ingin menyelesaikan semua cerita yang pernah kukarang setengah-setengah di dalam benak, aku ingin menulis tentang semuanya dan harus malam ini.
Malam ini aku harus membuktikan bahwa mungkin saja aku menang. Entah kepada siapa, entah untuk apa, yang aku tahu hanya malam ini rasanya pas saja.
Malam ini semua harus selesai dan aku tidak tahu harus memulai dari mana. Mungkin aku harus mulai dengan kalimat “pada suatu hari”?
Baiklah,
Pada suatu malam (karena ini sudah sangat larut),
Aku kalut lagi.
Bbknmdg15,1Aug10 ,2.20 dini hari
Kamis, 06 Mei 2010
sembari menunggu ibu
aku menunggu ibu
memunggungi kawan yang sibuk bergoyang
sambil sesekali berteriak dengan nada yang sudah diatur sedemikian rupa
yang membuatku selalu menengok kebelakang
penasaran
gaya apa lagi sekarang?
pandangku menembus gelas kaca
tumben hari ini ibu kota tidak merayap
mungkin lelah
seperti gadis dibalik kaca itu
atau dia yang duduk di depan meja
sendirian
bergengaman dengan benda yang sepertinya mampu menyapu kesepian
alunan lagu KOC yang sayup terdengar
tertutup oleh bunyi lebah-lebah pekerja
yang tak kunjung henti bergumam
sayang merdu si penyayi jadi tidak terdengar
padahal aku memfavoritkan mereka
sambil sibuk menebak lagu yang sedang diputar
pandangku jatuh pada mereka yang di mabuk cinta
sesaat mereka terdiam menghirup bau harum yang khas
lalu tersenyum puas
disampingku
dua laki laki tegap
memgang gagang besi
lagi lagi tersenyum simpul
palsu
pada mereka yang lalu lalang
pasti mereka bosan
Hidupnya stagnan
dua meja ke arah kiri
dua bapak sibuk sendiri
berdasi
tapi logatnya macam preman kediri
waktu berlalu
si gadis di balik kaca kini sudah tidak sendiri
koleganya sudah datang
dan ibu masih entah dimana
padahal minuman oranyeku tinggal setengah..
3:38 yang kulihat waktu menunggu ibu di kedai kopi
Jumat, 15 Januari 2010
jika saja aku dan kamu nyata
ditemani bunga lili warna ungu yang kupetik langsung saat mereka baru merekah
dengan susu segar baru diperah dari sapi-sapi merah jambu
lalu siang saat kau sibuk berkeluh kesah tentang peluh dan susah
aku akan datang membawa kotak kebahagiaan
berisi lolipop dan gula-gula
beralaskan tikar kotak-kotak kita berpiknik bersama
dibawah pohon apel karamel yang selalu berbunga
menjelang sore yang temaram
aku hadiahkan engkau layang-layang
lalu kita akan berlomba,
sambil bercerita tentang mimpi-mimpi
yang tidak pernah terlalu tinggi
dan malam pun tiba, dengan aku purnama akan selalu bulat sempurna
aku akan membacakanmu dongeng para peri
berbagi imaji-imaji yang hanya kita yang tahu
aku akan membawa mu menuju dunia mimpi
tidak akan ada lagi resah dan insomnia,
dengan lantunan ku kau akan lelap walau dalam gelap
bayangkanlah kejutan dari ku jika saja kau bercerita lebih awal..
Kamis, 14 Januari 2010
Jumat, 28 Agustus 2009
hallo, amsterdam
Membaca artikel dan buku cerita tentang negara impian pun sudah saya lakoni sejak dulu. Bikin iri memang, tapi bagi saya itu menjadi sebuah constant motivator hihi. Saya ingat, dulu sewaktu SD saya pernah baca artikel di majalah Bobo tentang sherina yang jalan-jalan kesana, yang berfoto diantara gedung-gedung mini Madurodam, persis seperti yang saya khayalakan, huh! sungguh membuat iri hati. Saya suka sekali membaca poster-poster dan undangan pameran atau pemutaran film dari Erasmus Huis. Entah mengapa, walau tidak paham betul saya sungguh menikmati teks-teks bertuliskan bahasa asing itu. Tiap tahun pun, saya tidak pernah alpa datang ke konningindedag, acara perayaan ulang tahun ratu Belanda. Bukan hanya karena makanan-makanan dan minuman enak yang bergelimang, entah karena apa, tapi yang jelas saya sangat menikmati suasana nya. Oh, saya benar-benar jatuh cinta.
madurodam where people become gigantic creatures
Minggu, 16 Agustus 2009
suara
Dari luar kami melihat. Menonton. Menyaksikan. Gerak bibir mu yang komat kamit sepeti membaca mantra. Megap-megap kelelahan, akibat berteriak-riak rkencang. Gerak tubuh mu bergeliyat liar, kesetanan. Tak terkendali.
Kau seperti memang sengaja minta ditonton. Sengaja ingin diterka, dan membuat kami bertanya-tanya "ada apa dengan dia?".
Kau menggantungkan dirimu pada telepati-telepati, kekuatan supranatural penembus ruang dan waktu pembaca pikiran, dan burung-burung yang membisikan kabar dari telinga ke telinga. Berharap kami mengerti sendiri, hanya dengan melihat, tanpa perlu mendengar.
Lalu apakah menjadi salah kami, jika pada akhirnya kau mati, membusuk sendiri di ruang kacamu?
Karena pikiran kami yang tidak dapat menembus kaca tebal yang mengelilingimu, sehingga telepati tak dapat terjadi. Karena Dewa tidak memberikan kami kekuatan supranatural yang luar biasa. Dan karena burung-burung pembawa kabar berita mu mati sebelum kabar sempat tersiar
Kamis, 06 Agustus 2009
Just Take Me With You

Kamis, 30 Juli 2009
Misplaced
Memang sih aku juga tidak terlalu tempat yang pas dan benar itu seperti apa, tapi aku tahu bukan disini. Dan itu pasti, aku yakin.
Seperti keyakinan orang-orang akan pinguin yang pasti mati dalam sesaat, jika tiba-tiba Tuhan menjatuhkan dia dari langit ke tengah-tengah gurun sahara.
Harusnya waktu itu, waktu si kaki yang maha manja mengeluh kalau dia sudah lelah berjalan dan mencari, aku pura-pura tidak dengar saja. Harusnya aku jalan terus dan mengangap ucapannya angin lalu. Terus melangkah, terus mencari. Bukannya malah berhenti dan nurutin keluh kesah si manja, terus ikut-ikutan terbawa malas dan memilih pasrah lalu menyerah dan terjebak selamanya di tempat ini.
Tempat indah yang terkutuk. Tempatnya berlangit oranye keeamsan, seperti warna langit saat matahari terbenam dengan sempurna. Tempat impian orang-orang yang mengejar kesuksesan. Dimana kesenangan menjadi prioritas kesekian. Semua ambisius, semua mengejar harta sampai mampus. Kerja rodi sudah pasti, rutin dikerjakan setiap hari dan ujung-ujungnya si kaki manja lagi-lagi berkeluh kesah, tiap hari makin menjadi-jadi. Sial, dasar kaki malas gak pernah puas.
Sekarang tiap hari aku harus pura-pura. Pura-pura suka, pura-pura nyaman, pura-pura tidak ada apa-apa, pura-pura pas, pura-pura senang kerja rodi, pura-pura ambisius seperti mereka. Padahal aku saja tidak tahu apa yang mereka kejar, selain harta tentunya.
Cih!
Dasar orang-orang miskin ambisius tidak berguna
Selain jadi tukang pura-pura, tinggal disini pun membuat ku jadi pendusta. Pendusta handal, nomor satu sejagad raya. Apalagi saat aku harus membalas surat kiriman dari Ibunda Raja, yang kerjaannya bulak-balik bertanya bagaimana kabar dan perkembangku di disini. Isi surat balasan tentu saja dusta semua, aku selalu bilang aku suka dan baik-baik saja. Pernah suatu ketika saat aku sangat lelah berdusta dan mengarang surat yang isinya bohong semua, aku sedikit menyelipkan kata-kata yang menyiratkan aku tertekan dan tidak suka disini. Oh tapi memang kejujuran terkadang membawa luka, surat Ibunda raja berikutnya isinya jadi caci maki semua. Mulai hari itu aku selalu membalas surat nya dengan dusta seperti biasa. Lagipula tidak ada salahnya membuat dia sedikit bahagia.
Coba yah, coba..
Kalau saja aku waktu itu pura-pura tidak dengar ke si kaki, mungkin aku sudah ada di tempat yang seharusnya aku berada. Mungkin di tempat indah itu, yang biasanya hanya aku kunjungi dikala liburan, atau kala ada waktu senggang. Tempat yang langit nya merah jambu, warna favoritku. Tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat ku sekarang, hanya beberapa langkah kaki, ah andai waktu itu aku berjalan sedikit lagi. Sial!
Dan sekarang aku menyesal.
Cih
Sungguh
Aku paling benci jika harus menyesal begini. Tiada berguna, toh nasi sudah menjadi bubur. Dan yang paling aku benci adalah, menyesal membuat ku jadi lebih benci sama diri sendiri. Menyesal seperti membuka luka lama yang telah kukubur dalam-dalam. Mencuatkan kembali rasa perih ke permukaan.
Tapi mau bagaimana lagi? Rasa penyesalan itu tidak pernah mau pergi, menghantuiku dan si kaki pemalas sialan siang dan malam. Membisikan kepedihan, mengingatkan ku siapa yang paling salah disini, setiap saat setiap waktu. Ah sekali lagi, sungguh sial!
Haaaaah lihat saja kalau sudah masanya aku pergi dari sini dan hasilnya tidak seindah yang dijanjikan dan seterang si langit emas. Aku akan...............
sungguh aku hilang arah di tempat ini