Tampilkan postingan dengan label imajiimaji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imajiimaji. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 November 2012

you give up so easily when i thought you're the fighting kind. since you always kinda sweat and fight for everything, even fighting with the administration man while maybe all he was doing was doing his job. just like when i thought you're the whithe-horse-riding-with-shining-armor-knight and jeng jeng down you came in a merry go round ride.





Rabu, 02 Mei 2012

hallo kamu,

If we have a date then this year should be our i don't even counting down the years or so anniversary, but lets forget about it, we don't have it anyway, and we shall stop to longing for things that we don't have. Umm well, so we've or should i said I've (just in-case were happen not to be in the same page, and this whole time you is just something that my wild imaginary bring out to the world) been in this journey of the unfortunate events for years, and it's been fun. Why unfortunate? because misery is what bringing us together. I think that we're that kind of people that are probably cursed to have so much problems or dramas in our lives (though, this is just a justification for us being such a complainer :p) and lucky us that we've got each other back, sadly but true it feels like a curse and blessing at the same time to have you around. You give me so much butterflies in the stomach that it goes way too many and started to eat my heart alive. and it ain't good, no good at all. So please allow me to be a heart less complainer just as much as you are with your cold metal heart. And i wish us a whole more fun less complain more love year ahead and ahead and ahead and ahead. and i wished us could one day leave all this journey behind take a boat to a tropical deserted island to actually celebrate something together or with a more decent people than any one of us. :)




it's a wrap and so do us (hopefully)
kisses and hugs,



Jumat, 20 April 2012

mad hatter tea party

pakai topi mu yang paling gila 
dalam 3 2 1 
aku akan seduhkan kamu teh dengan ekstra gula-gula 
sore ini kita akan berpesta 
tidak perlu ulang tahun 
karena umur hanya hitungan matematika 
dan dewasa tidak bisa diukur dengan sempoa 
mari rayakan tahun yang berulang; 
musim semi yang datang lagi; 
serta kita yang forever young



Senin, 07 Maret 2011

caterpillar,angel,and apple

you’re like the stranger in the night
of the city of the blinding lights*
tip-toe-ing between trees
of the concrete jungle**
Where the angles are all lost
and need to be found
Where i like a small caterpillar
secretly eating the big apple
on my own

*taken from U2 song “The City of Blinding Lights”

**taken from Alicia Keys song “Streets of New York”








Kamis, 11 November 2010

menghapus hari

Tidak ada yang tahu tentang bencana sore itu. Tidak satu pun di rumah nya yang sadar, atau yang matanya cukup terbuka untuk melihat tekuk di wajahnya. Tidak ada satu pun kawan yang melihat remuk di hatinya.

Atau tidak ada yang tega untuk bertanya? Bisa jadi.

Langitnya runtuh begitu saja. Amblas. Tanpa basa basi. Tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sulit baginya untuk percaya saat semua terjadi begitu cepat. Langitnya runtuh dalam satu kejapan mata. Langitnya bahkan runtuh saat ia sedang terbahak.

Di sudut hatinya ia masih yakin bahwa langitnya masih terbentang dan bulannya masih tergantung tinggi. Maka sekali lagi ia mendongak ke atas, mencari bintang dan bulannya. Mencari cahaya yang menjadi tujuan hidup nya. Namun kali ini yang ada hanya ruang hampa hitam. Gelap.

Langitnya runtuh dan itu nyata

Dilantai tempat ia berdiri tersebar serpihan bintang-bintang miliknya yang berserakan jatuh. Bintang-bintang yang ia gantung dengan susah payah satu persatu, dengan tangga setinggi angkasa. Ia menyapu serpihan-serpihan itu. sendirian. Yang menemaninya hanya suara isak tangis dalam hatinya.

Ya, tidak ada yang perduli
Tapi baginya lebih baik begitu

Karena setelah ia menyapu serpihan bintangnya dan menaruh mereka di botol, ia tinggal menghapus hari ini dari kalender, toh tidak ada yang tahu, tidak ada yang sadar.
Ia akan pura-pura tidur panjang seharian. Besok subuh subuh sekali ia akan bangun sebelum yang lain bangun, untuk melukis langit yang baru, menggantung bintang dan bulan yang baru.

Dan tidak akan ada yang tahu langitnya pernah runtuh.

Ia pun tidak akan pernah tahu, baginya langit runtuh hanya akan menjadi bagian dari tidur siangnya. Mimpi buruk yang mengusik saat ia asik terlelap. Mimpi buruk yang ia harap dapat lekas terhapus dari benaknya.

Dan hari dimana langitnya runtuh hanya akan menjadi sejarah yang mungkin ada atau mungkin tidak. menjadi hari yang terhapus begitu saja. menjadi hari tanpa arti.



Selasa, 03 Agustus 2010

Pada suatu malam

Malam ini aku harus menulis sesuatu, entah apa, namun ada rasa menggebu yang mengharuskannya. Andai saja aku mempunyai daya khayal yang tinggi, mungkin saat ini aku sedang sibuk membuat cerita dongeng seperti dirinya. Tentang rumah kue di padang savanna, atau kurcaci-kurcaci penambang emas di hutan para peri.

Aku ingin menulis mengenai hal-hal yang aku suka, seperti cerita fable mengenai burung-burung bersayap indah dan penguhuni hutan atau mengenai bintang-bintang laut yang anggun dan serdadu kuda laut yang gagah di negeri para duyung. Aku ingin menulis roman yang berakhir bahagia dengan putri-putri yang diselamatkan pangeran berkuda. aku ingin menyelesaikan semua cerita yang pernah kukarang setengah-setengah di dalam benak, aku ingin menulis tentang semuanya dan harus malam ini.

Malam ini aku harus membuktikan bahwa mungkin saja aku menang. Entah kepada siapa, entah untuk apa, yang aku tahu hanya malam ini rasanya pas saja.

Malam ini semua harus selesai dan aku tidak tahu harus memulai dari mana. Mungkin aku harus mulai dengan kalimat “pada suatu hari”?

Baiklah,

Pada suatu malam (karena ini sudah sangat larut),

Aku kalut lagi.


Bbknmdg15,1Aug10 ,2.20 dini hari




Kamis, 06 Mei 2010

sembari menunggu ibu

aku menunggu ibu
memunggungi kawan yang sibuk bergoyang
sambil sesekali berteriak dengan nada yang sudah diatur sedemikian rupa
yang membuatku selalu menengok kebelakang
penasaran
gaya apa lagi sekarang?

pandangku menembus gelas kaca
tumben hari ini ibu kota tidak merayap
mungkin lelah
seperti gadis dibalik kaca itu
atau dia yang duduk di depan meja
sendirian
bergengaman dengan benda yang sepertinya mampu menyapu kesepian

alunan lagu KOC yang sayup terdengar
tertutup oleh bunyi lebah-lebah pekerja
yang tak kunjung henti bergumam
sayang merdu si penyayi jadi tidak terdengar
padahal aku memfavoritkan mereka

sambil sibuk menebak lagu yang sedang diputar
pandangku jatuh pada mereka yang di mabuk cinta
sesaat mereka terdiam menghirup bau harum yang khas
lalu tersenyum puas

disampingku
dua laki laki tegap
memgang gagang besi
lagi lagi tersenyum simpul
palsu
pada mereka yang lalu lalang
pasti mereka bosan
Hidupnya stagnan

dua meja ke arah kiri
dua bapak sibuk sendiri
berdasi
tapi logatnya macam preman kediri

waktu berlalu
si gadis di balik kaca kini sudah tidak sendiri
koleganya sudah datang
dan ibu masih entah dimana
padahal minuman oranyeku tinggal setengah..


3:38 yang kulihat waktu menunggu ibu di kedai kopi

Jumat, 15 Januari 2010

jika saja aku dan kamu nyata

mungkin pagi-pagi kau akan temukan roti coklat terpanggang sempurna siap disantap
ditemani bunga lili warna ungu yang kupetik langsung saat mereka baru merekah
dengan susu segar baru diperah dari sapi-sapi merah jambu

lalu siang saat kau sibuk berkeluh kesah tentang peluh dan susah
aku akan datang membawa kotak kebahagiaan
berisi lolipop dan gula-gula
beralaskan tikar kotak-kotak kita berpiknik bersama
dibawah pohon apel karamel yang selalu berbunga


menjelang sore yang temaram
aku hadiahkan engkau layang-layang
lalu kita akan berlomba,
sambil bercerita tentang mimpi-mimpi
yang tidak pernah terlalu tinggi


dan malam pun tiba, dengan aku purnama akan selalu bulat sempurna
aku akan membacakanmu dongeng para peri
berbagi imaji-imaji yang hanya kita yang tahu
aku akan membawa mu menuju dunia mimpi
tidak akan ada lagi resah dan insomnia,
dengan lantunan ku kau akan lelap walau dalam gelap




bayangkanlah kejutan dari ku jika saja kau bercerita lebih awal..



Kamis, 14 Januari 2010

book of spells

I am an open book of spells. Everyone can read me, only few can truly understands.

Jumat, 28 Agustus 2009

hallo, amsterdam

Entah sejak kapan keinginan itu muncul. Mungkin sejak saya kecil dulu, sejak saya mulai paham kata-kata yang terkadang ibu saya ucapkan, apabila beliau sedang memarahi saya. Saat beliau bilang saya slordeh, atau saya beliau menggunakan alasan "geen geld" saat menolak keinganan saya yang minta dibelikan mainan macam-macam. Mungkin sejak pertama kali saya mendengar cerita tentang kedua orangtua saya yang mengahabiskan tahun-tahun awal pernikahan mereka disana. Yang jelas keinginan itu sudah memendam lama, memupuk, dan mengakar. Dari sekedar imaji-imaji belaka, hingga menjadi mimpi, menjadi hutang dan janji terhadap diri sendiri, yang saya yakini kelak suatu hari nanti harus dibayar dan dipenuhi.

Khayalan-khayalan berdiri diantara gedung-gedung dan rel kereta api di Madorudam saat saya SD pun masih suka mampir di benak, malah ditambah khayalan-khayalan pergi ke negara tetangga seperti jerman atau belgia, atau perasaan senangnya bersepeda kesana-kemari dan bahagianya bisa merasakan hangat matahari saat musim panas di Scheveningen, setelah berbulan-bulan angin dingin menerpa. Juga khayalan tentang serunya berfoto-foto ria dimalam hari di sepanjang Red Light district yang terkenal itu. Ternyata khayalan-khayalan masa kecil itu tidak pernah pudar, malah semakin berkembang seiiring bertambahnya pengetahuan tentang negeri impian.


Membaca artikel dan buku cerita tentang negara impian pun sudah saya lakoni sejak dulu. Bikin iri memang, tapi bagi saya itu menjadi sebuah constant motivator hihi. Saya ingat, dulu sewaktu SD saya pernah baca artikel di majalah Bobo tentang sherina yang jalan-jalan kesana, yang berfoto diantara gedung-gedung mini Madurodam, persis seperti yang saya khayalakan, huh! sungguh membuat iri hati. Saya suka sekali membaca poster-poster dan undangan pameran atau pemutaran film dari Erasmus Huis. Entah mengapa, walau tidak paham betul saya sungguh menikmati teks-teks bertuliskan bahasa asing itu. Tiap tahun pun, saya tidak pernah alpa datang ke konningindedag, acara perayaan ulang tahun ratu Belanda. Bukan hanya karena makanan-makanan dan minuman enak yang bergelimang, entah karena apa, tapi yang jelas saya sangat menikmati suasana nya. Oh, saya benar-benar jatuh cinta.

Sebenarnya sampai detik ini pun saya tidak pernah punya gambaran pasti tentang apa yang akan saya lakukan jikalau suatu hari nanti, insayallah, atas kehendak Tuhan, saya benar-benar bisa tinggal atau pergi kesana. Mungkin menggambil gelar s2 untuk bidang kebudayaan, atau hanya sekedar menjadi nyonya, atau malah hanya sekdar menjadi turis. Namun sebenarnya ada satu mimpi dan rahasia yang saya simpan selama ini. My wildest dream is to live and own a travel agent company there. Oh and if it is really do come true, I think by that time I could say that my live is perfect.


madurodam where people become gigantic creatures





Minggu, 16 Agustus 2009

suara

Saat rasa kalut dan kelabu membelut kau selalu sembunyi. Berlari masuk ke ruang kedap suara berdinding kaca. Berteriak teriak frustasi. Menyumpah serapah. Mengutuk dan mengumpat.

Dari luar kami melihat. Menonton. Menyaksikan. Gerak bibir mu yang komat kamit sepeti membaca mantra. Megap-megap kelelahan, akibat berteriak-riak rkencang. Gerak tubuh mu bergeliyat liar, kesetanan. Tak terkendali.

Kau seperti memang sengaja minta ditonton. Sengaja ingin diterka, dan membuat kami bertanya-tanya "ada apa dengan dia?".

Kau menggantungkan dirimu pada telepati-telepati, kekuatan supranatural penembus ruang dan waktu pembaca pikiran, dan burung-burung yang membisikan kabar dari telinga ke telinga. Berharap kami mengerti sendiri, hanya dengan melihat, tanpa perlu mendengar.

Lalu apakah menjadi salah kami, jika pada akhirnya kau mati, membusuk sendiri di ruang kacamu?
Karena pikiran kami yang tidak dapat menembus kaca tebal yang mengelilingimu, sehingga telepati tak dapat terjadi. Karena Dewa tidak memberikan kami kekuatan supranatural yang luar biasa. Dan karena burung-burung pembawa kabar berita mu mati sebelum kabar sempat tersiar

Kamis, 06 Agustus 2009

Just Take Me With You



I really don't care to where and how we are gonna get there

Is it Rome or the Land of Avalon

Space ship, jumbo jet, or just a simple gas balloon

Kamis, 30 Juli 2009

Misplaced

O o salah tempat. Sial!

Memang sih aku juga tidak terlalu tempat yang pas dan benar itu seperti apa, tapi aku tahu bukan disini. Dan itu pasti, aku yakin.
Seperti keyakinan orang-orang akan pinguin yang pasti mati dalam sesaat, jika tiba-tiba Tuhan menjatuhkan dia dari langit ke tengah-tengah gurun sahara.

Harusnya waktu itu, waktu si kaki yang maha manja mengeluh kalau dia sudah lelah berjalan dan mencari, aku pura-pura tidak dengar saja. Harusnya aku jalan terus dan mengangap ucapannya angin lalu. Terus melangkah, terus mencari. Bukannya malah berhenti dan nurutin keluh kesah si manja, terus ikut-ikutan terbawa malas dan memilih pasrah lalu menyerah dan terjebak selamanya di tempat ini.

Tempat indah yang terkutuk. Tempatnya berlangit oranye keeamsan, seperti warna langit saat matahari terbenam dengan sempurna. Tempat impian orang-orang yang mengejar kesuksesan. Dimana kesenangan menjadi prioritas kesekian. Semua ambisius, semua mengejar harta sampai mampus. Kerja rodi sudah pasti, rutin dikerjakan setiap hari dan ujung-ujungnya si kaki manja lagi-lagi berkeluh kesah, tiap hari makin menjadi-jadi. Sial, dasar kaki malas gak pernah puas.

Sekarang tiap hari aku harus pura-pura. Pura-pura suka, pura-pura nyaman, pura-pura tidak ada apa-apa, pura-pura pas, pura-pura senang kerja rodi, pura-pura ambisius seperti mereka. Padahal aku saja tidak tahu apa yang mereka kejar, selain harta tentunya.
Cih!
Dasar orang-orang miskin ambisius tidak berguna

Selain jadi tukang pura-pura, tinggal disini pun membuat ku jadi pendusta. Pendusta handal, nomor satu sejagad raya. Apalagi saat aku harus membalas surat kiriman dari Ibunda Raja, yang kerjaannya bulak-balik bertanya bagaimana kabar dan perkembangku di disini. Isi surat balasan tentu saja dusta semua, aku selalu bilang aku suka dan baik-baik saja. Pernah suatu ketika saat aku sangat lelah berdusta dan mengarang surat yang isinya bohong semua, aku sedikit menyelipkan kata-kata yang menyiratkan aku tertekan dan tidak suka disini. Oh tapi memang kejujuran terkadang membawa luka, surat Ibunda raja berikutnya isinya jadi caci maki semua. Mulai hari itu aku selalu membalas surat nya dengan dusta seperti biasa. Lagipula tidak ada salahnya membuat dia sedikit bahagia.

Coba yah, coba..
Kalau saja aku waktu itu pura-pura tidak dengar ke si kaki, mungkin aku sudah ada di tempat yang seharusnya aku berada. Mungkin di tempat indah itu, yang biasanya hanya aku kunjungi dikala liburan, atau kala ada waktu senggang. Tempat yang langit nya merah jambu, warna favoritku. Tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat ku sekarang, hanya beberapa langkah kaki, ah andai waktu itu aku berjalan sedikit lagi. Sial!

Dan sekarang aku menyesal.
Cih
Sungguh
Aku paling benci jika harus menyesal begini. Tiada berguna, toh nasi sudah menjadi bubur. Dan yang paling aku benci adalah, menyesal membuat ku jadi lebih benci sama diri sendiri. Menyesal seperti membuka luka lama yang telah kukubur dalam-dalam. Mencuatkan kembali rasa perih ke permukaan.

Tapi mau bagaimana lagi? Rasa penyesalan itu tidak pernah mau pergi, menghantuiku dan si kaki pemalas sialan siang dan malam. Membisikan kepedihan, mengingatkan ku siapa yang paling salah disini, setiap saat setiap waktu. Ah sekali lagi, sungguh sial!

Haaaaah lihat saja kalau sudah masanya aku pergi dari sini dan hasilnya tidak seindah yang dijanjikan dan seterang si langit emas. Aku akan...............

(sungguh aku tidak tahu harus menyalahkan siapa, tapi tetap saja rasanya aku butuh seseorang untuk disalahkan. Bukankah aku akan terlalu frustatsi nantinya untuk dapat menyalahkan diriku sendiri lebih jauh lagi, jika sudah keluar dari tempat ini dan tetap tidak bahagia?)



sungguh aku hilang arah di tempat ini