Kamis, 11 November 2010

menghapus hari

Tidak ada yang tahu tentang bencana sore itu. Tidak satu pun di rumah nya yang sadar, atau yang matanya cukup terbuka untuk melihat tekuk di wajahnya. Tidak ada satu pun kawan yang melihat remuk di hatinya.

Atau tidak ada yang tega untuk bertanya? Bisa jadi.

Langitnya runtuh begitu saja. Amblas. Tanpa basa basi. Tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sulit baginya untuk percaya saat semua terjadi begitu cepat. Langitnya runtuh dalam satu kejapan mata. Langitnya bahkan runtuh saat ia sedang terbahak.

Di sudut hatinya ia masih yakin bahwa langitnya masih terbentang dan bulannya masih tergantung tinggi. Maka sekali lagi ia mendongak ke atas, mencari bintang dan bulannya. Mencari cahaya yang menjadi tujuan hidup nya. Namun kali ini yang ada hanya ruang hampa hitam. Gelap.

Langitnya runtuh dan itu nyata

Dilantai tempat ia berdiri tersebar serpihan bintang-bintang miliknya yang berserakan jatuh. Bintang-bintang yang ia gantung dengan susah payah satu persatu, dengan tangga setinggi angkasa. Ia menyapu serpihan-serpihan itu. sendirian. Yang menemaninya hanya suara isak tangis dalam hatinya.

Ya, tidak ada yang perduli
Tapi baginya lebih baik begitu

Karena setelah ia menyapu serpihan bintangnya dan menaruh mereka di botol, ia tinggal menghapus hari ini dari kalender, toh tidak ada yang tahu, tidak ada yang sadar.
Ia akan pura-pura tidur panjang seharian. Besok subuh subuh sekali ia akan bangun sebelum yang lain bangun, untuk melukis langit yang baru, menggantung bintang dan bulan yang baru.

Dan tidak akan ada yang tahu langitnya pernah runtuh.

Ia pun tidak akan pernah tahu, baginya langit runtuh hanya akan menjadi bagian dari tidur siangnya. Mimpi buruk yang mengusik saat ia asik terlelap. Mimpi buruk yang ia harap dapat lekas terhapus dari benaknya.

Dan hari dimana langitnya runtuh hanya akan menjadi sejarah yang mungkin ada atau mungkin tidak. menjadi hari yang terhapus begitu saja. menjadi hari tanpa arti.



3 komentar:

  1. aku suka banget postingan ini. suka banget banget :)

    BalasHapus
  2. apakah "Ia" di atas maksutnya dirimu sendiri smit. Well, bisa juga lo nulis rada panjangan, & gw suka yg satu ini..

    BalasHapus